Sabtu, 12 Januari 2013

Sejarah Dieng



Bagi yang pernah ke Dieng dan menyempatkan diri berkunjung ke Desa Tertinggi di pulau Jawa yaitu desa Sembungan , tentunya pernah juga melihat telaga Cebong sembungan yang apabila dilihat dari puncak bukit Sunrise indahnya luar biasa dan sulit dicari tandingannya.

Telaga Cebong sendiri merupakan sebuah telaga yang bentuknya mirip Berudu, sehingga warga sekitar memberi nama dengan Telaga Cebong, Telaga ini dulunya pernah menggemparkan masyarakat disekitar Kabupaten Wonosobo,karena dipercaya terdapat ikan yang
luar biasa besarnya, 

Beberapa tahun lalu telaga cebong sempat direhabilitasi dengan pengerukan menggunakan alat berat untuk memperluas sisi-sisi telaga yang sudah tersedimentasi dan tumbuh gambut disekitarnya, pada proses ini ditemukan juga kayu-kayu dengan ukuran sangat besar didalamnya yang seharusnya dapat dijadikan bahan kajian dan pembelajaran bagi generasi sekarang, akan tetapi karena keserakahan akhirnya kayu ini dipotong-potong oleh pemborongnya untuk dijual sebagai kayu bakar, jenis kayu ini cukup langka untuk sekitar kawasan Dieng, warnanya hitam, kerasnya luar biasa, dan beratnya mirip besi, Pada waktu itu saya sempat marah-marah mengetahui ulah pemborong nakal tersebut, dan saya mengkomunikasikannya dengan kepala desa dan ketua BPD setempat sampai akhirnya sisa-sisa kayu yang dibawa tersebut akhirnya dibiarkan saja dan dipasang disekitar dermaga prahu.tapi yang terbawa sudah beberapa truk. 

Disisi lain keberadaan telaga cebong beserta keunikan tersembunyi tersebut, masih jarang sekali yang mengetahui kalau ternyata di Sembungan ada 2 (dua)telaga, telaga yang satunya adalah telaga Wurung  yang berada di puncak gunung pakuwojo, tepat disekitar batu yang mirip dengan paku atau orang sekitar sering menyebutnya pakuwojo( paku baja).

Menurut penuturan kang Sagi( 40 th) dan ahmad irfan ( 39 th) warga sembungan,cerita yang berkembang dan dipercaya oleh warga desa sembungan, dulu pada proses pembangunan / pembuatan telaga tersebut merupakan sebuah lomba dari seorang bapak sakti yang memiliki dua anak laki-laki, lomba tersebut menjadi ajang persaingan antara kakak beradik untuk mengadu kesaktian masing-masing, kakaknya yang terkenal rajin bekerja dan sakti mandraguna, memilih posisi paling puncak dari Desa sembungan yaitu di sekitar pakuwojo, sedangkan adiknya yang pemalas memilih tempat yang lebih dekat yaitu dibawah sebelah barat bukit sikunir, waktu yang ditentukan telah tiba kedua kakak beradik tersebut Sudah mempersiapkan diri.

Pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok sang kakak berangkat terlebih dahulu ke lokasi yang dipilih dan memulai pekerjaannya, sedangkan si adik yang pemalas masih tidur sampai matahari cukup terik muncul dari bukit Sikunir, sang adik terlihat sangat santai karena ternyata menyimpan sebuah rencana jahat terhadap pekerjaan kakaknya.dia yakin betul pasti akan memenangkan perlombaan.


Matahari semakin condong ke barat, pertanda waktu semakin sore, pekerjaan sang kakak hampir selesai, bahkan airnya yang tersimpan dari akar-akar pohon disekitar Pakuwojo mulai mengalir, sampai akhirnya hampir memenuhi kubangan / telaga yang dia buat. sementara sang adik tampaknya belum bisa sepenuhnya menyelesaikan pekerjaannya, lokasi yang ada disebelah selatan belum tergarap juga bahkan dari bentuknya mirip berudu, dia tidak juga memperhatikan darimana airnya akan dia dapatkan, disela-sela pekerjaannya sang adik mulai melancarkan niat jahatnya , dengan cara naik ke puncak pakuwojo, dan menemui kakaknya, dia mengatakan bahwa kakaknya lah yang menang, dan sebagai hadiah bapaknya sudah mempersiapkan hidangan daging ayam yang sangat lezat dan akan mempertemukan dengan calon istri yang cantik jelita, 

Percaya dengan kabar dari adiknya , sang kakak bergegas pulang menuju rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga karena dalam benaknya sudah tergambar hadiah apa yang akan dia terima.

Melihat situasi yang bagus tersebut mulailah sang adik melancarkan rencananya dengan cara membobol telaga buatan kakaknya agar airnya mengalir ke telaga yang dia bangun, dan ternyata berhasil dengan sangat sukses. Telaga yang dibangun kakaknya kering dalam waktu yang tidak terlalu lama dan telaga yang dia bangun sekarang sudah berisi air bahkan meluap sampai tepian telaga.

Malam itu sang adik tidak pulang kerumah, tapi tetap berada di pinggir telaga yang dia bangun dalam keadaan seperti orang sedang bersemedi ,sampai keesokan harinya bapaknya mencari kepinggir telaga dan menyatakanbahwa pemenang dari lomba tersebut adalah sang adik yang berhak mendapat hadiah pernikahan dengan Calon istri yang cantik jelita.

Sampai sekarang telaga yang dibangun oleh sang kakak tetap mengering dan penduduk sekitar memberi nama dengan sebutan telaga Wurung ( telaga yang tidak jadi), dan dibagian atas dekat dengan pakuwojo terdapat goa pertapaan yang sampai hari ini setiap tahun dikunjungi oleh sesepuh Dieng untuk melakukan Ritual . 

Ternyata di Sembungan ada dua telaga, ini hanya cerita dari mulut kemulut yang dipercaya oleh warga setempat, benar atau tidaknya sulit untuk dilacak, yang jelas moral cerita ini cukup bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran tentang sebuah persaingan, kekeluargaan, konstruksi bangunan, cara untuk mencapai sebuah tujuan dll.

Cerita ini dirangkai dan disarikan dari sumber warga desa Sembungan 

0 komentar:

Poskan Komentar